Oleh: l@6.com | Mei 31, 2010

Ayah, Listen to Me, Please..


Monday, 24 May 2010

“Ayah tahu tidak, kata ibu guru, besok pagi semua anak kelas 2 SD kita harus membawa karton warna hitam.” Ayyub kecil yang tahun ini genap berusia 7 tahun memulai pembicaraan dengan ayahnya ketika sang ayah bergegas menggandeng tangan anaknya untuk dibawa pulang kerumah.

“Ayah, tadi si Jundi bilang kalau dia tidak mau main dengan Ahmad yah, karena Ahmad suka mukul, kalau mukul memang suka sakit, kemarin saja aku dipukul pundakku, lihat deh yah, sampai sekarang aku masih terasa sakit,” sambil membuka kancing baju seragamnya sikecil Ayub mencoba menunjukkan bekas rasa sakit dibahunya pada sang ayah.

Namun dengan sedikit keras sang ayah menarik tangan anaknya sambil tangan kanannya memegang handphone dan berbicara dengan seseorang di sebrang sana, tanpa menoleh sedikitpun pada pundak anaknya yang agak terbuka.

“Ya, ya, nanti saya datang, sekitar satu jam lagi, ya lagi jemput anak nih, ibunya sakit.”

“Ok,  siapkan saja, nanti saya bantu, insya ALLOH, ok sampai ketemu, wa’alaikumsalam warahmatullohi wabarakatuh,” demikian seru dan salam lengkap sang ayah pada lawan bicaranya di handphone.

Sesampainya dirumah, ayah memanggil Ayub untuk menyuruhnya segera ganti baju, namun setelah dua tiga kali dipanggil ayah merasa terpancing emosinya dan mulai marah. “Ayub, Ayub..telingamu dengar tidak sih?”

“Pasang telingamu, ayah bilang ganti bajumu yang kotor, ayo sana, jangan menyusahkan ayah, ayah mau kembali kerja dan ibu lagi sakit, ayo, jadi anak soleh, nurut sama ayah..” demikian suara kerasnya membuyarkan senyum Ayub yang tengah asyik main lego tanpa mengganti baju seragamnya yang sudah kotor berkeringat.

Lain waktu ayah menjadi marah lagi untuk kesekian kalinya, ketika Ayyub kecil harus di marahi 3 kali karena tidak mau mendengar perkataan ayahnya yang menyuruh Ayyub mengambil air wudhu ketika adzan magrib terdengar sayup-sayup dari rumah mereka yang tenang.

Haruskah ayah marah terus karena Ayyub tidak mau mendengar semua kata-kata ayah, dan diperlukan beberapa kali teguran keras yang terkadang berpuncak pada kemarahan yang menggelegar ketika Ayyub kembali tidak mendengar setelah ayah merasa lelah menyuruh dan berkata baik pada Ayyub.

Apakah ayah tidak ingat, bahwa seringkali Ayyub meminta perhatian ayah dan berkata serta bercerita sementara ayah sibuk dengan pekerjaannya. Bahkan seringkali tidak mendengar atau mendengar hanya depannya saja, karena Ayyub kecil bicara terus dimana ayah merasa apa yang dibicarakan Ayyub tidak begitu penting, sehingga ayahpun tidak memperhatikannya.

Bahkan yang Ayyub kecil rasakan adalah betapa ketika Ayyub bicara, ayah malah menelpon seseorang dan bebicara pada orang tersebut, jadi tidak salah kan, bila ayah bicara pada Ayyub, Ayyub pun tidak antusias mendengarkan karena ayah telah mengajarkan Ayyub untuk tidak memperhatikan lawan bicara ketika kita bicara.

“Jadi, kenapa ayah marah-marah yaa? ketika Ayyub tidak mau mendengar kata-kata ayah? toh ayah juga suka tidak mendengarkan Ayyub kalau Ayyub lagi bercerita pada ayah, aku kan hanya meniru..” mungkin demikian pikiran Ayyub kecil terhadap ayahnya.

(http://jisc.eramuslim.com/jendela_hati/display/362-ayah-listen-to-me-please)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: