Oleh: l@6.com | Juni 3, 2010

Masih Suka Nyontek Gak?


oleh Hurin Iin (10 Desember 2009 16:04)

Masih terkait dengan wilayah pendidikan. Prihatin mendalam saya ucapkan. Betapa tidak. Pertama, masih terlihat banyaknya siswa yang mencontek saat  ujian berlangsung. Itu fakta nyata di lapangan.  Banyak yang menganggap bahwa kejadian ini adalah hal wajar dan tidak perlu diperkarakan. Kedua, masih samanya beban tugas yang harus ditanggung oleh siswa yang memiliki kemampuan berbeda. Terlepas dari adanya pembatasan kreativitas, satu hal yang layak dicermati adalah mengapa budaya contek mencontek dan menconteki ini terus berjalan? Siapa yang bisa mengubah paradigma bahwa mereka seharusnya tidak perlu mencontek? Karena mereka juga tidak harus memaksakan diri untuk mendapatkan nilai bagus. Para pengajar atau guru memang tidak perlu memaksakan bahwa siswa haruslah menguasai semua mata pelajaran, melainkan mengarahkan siswa pada bidang yang mereka minati dan membantunya untuk berkembang. Membuat siswa menjalani proses untuk mendapatkan pemahaman yang  benar, terlepas dari kerelatifan benar itu sendiri,  mengapa mereka harus belajar matematika atau fisika, misalnya memang bukan hal yang mudah. Butuh perhatian ekstra untuk bisa menciptakan sistem pendidikan yang mampu mengarahkan siswa menjadi diri sendiri dan membuat mereka bangga akan kemampuan dirinya.

Setidaknya ada empat pihak yang perlu berunding bersama untukmencipta ini yaitu, murid, guru, dan orangtua siswa, plus pemerintah. Kalau pemerintah saya rasa tidak perlu mengandalkan banyak hal lah. Toh dari dulu APBN untuk pendidikan juga tidak pernah gol 20%. Orang tua juga sudah jarang yang aktif memperhatikan anaknya dikarenakan kesibukan kerja. Well, yang harus terlibat aktif memang murid dan guru. Di sini guru adalah yang mewakili pihak sekolah, tempat belajar hendaknya bisa menciptakan suasana belajar yang tidak harus melulu menyenangkan kok, tapi juga bisa diwarnai dengan kesedihan, ketakutan, kekagetan bahkan.  Sebagaimana hidup yang memang tidak hanya diisi oleh kegembiraan tapi juga ada masa-masa sulit dan suram. Karena sekolah memang sudah sewajarnya menjadi tempat siswa belajar memasyarakat.

Duh, kok jadi ngelantur begini topik pembicaraannya. Hehe.. maaf. Ok, kembali ke masalah budaya contek menyontek. Jika nilai bagus masih jadi standar lulus sehingga murid terpaksa harus belajar (itu bagi yang mau belajar) bukankah itu menandakan bahwa kegiatan belajar adalah kewajiban?  bukan lagi kebutuhan. Memang, ini polemik tersendiri. Di satu pihak, sekolah ingin membuat muridnya pintar dan sadar bahwa belajar adalah suatu kebutuhan, namun di lain pihak sang murid tak merasa adanya keleluasaan untuk belajar jika harus disuruh mencaplok semua mata pelajaran. Hmm… berarti butuh sharing day antara guru dan murid kan? Membuat guru dan murid merasa dekat satu sama lain. Dimana semua murid seharusnya mendapat jatah perhatian yang sama. Bukan hanya yang pintar saja, tapi juga yang digelari predikat “kurang pintar”, “agak kurang pintar”, “tidak pintar”, “gak aktif”, dsb.

* Saya hanya memimpikan sistem pendidikan masa depan bisa membuat siswa lebih leluasa mengembangkan kemampuannya masing-masing tanpa ada rasa was-was dan bingung setelah lulus nanti mereka akan melanjutkan kemana.

subernya: http://edukasi.kompasiana.com/


Responses

  1. thanks buat sharingnya


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: